Isu kenaikan BBM
digulirkan setiap tahunnya. Namun sepertinya untuk tahun 2012 ini tidak dapat
dielakkan. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas harus segera dilaksanakan. Bukan
karena pemerintah terkait itu bodo, atau tata kelola perminyakan kita yang
amburadul. Bukan juga karena gerak kinerja Pertamina yang tidak progresif dalam
mengeksplorasi kilang-kilang minyak nasional. Tapi terjadi masalah krusial yang
sangat fundamental dibalik isu tersebut. Sehingga mendorong Menteri ESDM
mengambil langkah tersebut. Yakni, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia
disandra teroris. Teroris tersebut meminta tebusan kepada pemerintah dan
seluruh rakyat Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Hampir 5% dari APBN 2012.
Jika permintaannya tidak dipenuhi teroris mengancam akan membakar hidup-hidup
Presiden dan Wakil Presiden dengan BBM Premium bersubsidi. Teroris memilih
Premium karena kadar oktannya lebih rendah dari pada Pertamax. Premium memiliki
nilai oktan 88 sedangkan Pertamax 92. Nilai oktan sendiri adalah suatu
angka/nilai yang digunakan untuk menentukan titik bakar bensin pada suhu atau
tekanan tertentu. Selain itu memungkinkan terjadinya pembakaran tidak sempurna
yang lebih tinggi. Pada proses pembakaran sempurna yang terbentuk adalah CO2.
Sedangkan gas CO dan jelaga terbentuk pada pembakaran tidak sempurna. Gas CO
jauh lebih mudah diserap oleh tubuh melalui pernafasan dan berakibat terjadinya
sesak nafas serta menurunnya kadar O2 pada otak. Hal ini
mengakibatkan pusing dan mual, pingsan dan kematian bila konsentrasi CO di
tubuh sangat tinggi. Sehingga teroris beranggapan proses pembakaran Presiden
dan Wakil Presiden tersebut bisa lebih dramatis.
Kegaduhan ini
sontak menggegerkan pemerintah dan parlemen. Para menteri dalam jajaran kabinet
segera bergerak. Menhankam segera menginstruksikan untuk menonaktifkan
infotaiment agar berita ini tidak menyebar luas demi terjaganya stabilitas
negara. Menkeu mengambil langkah represif dengan menjalankan program “Koin
untuk Pres dan Wapres”. Menteri Agama juga menggelar doa bersama di berbagai
wilayah guna mendoakan keselamatan Presiden dan Wapres sambil mengedarkan
sunduk-sunduk urunan uang tebusan. Sementara Polri segera menyebar Polteng (Polisi
Ganteng) dan Pollap (Polisi bisa Sulap) ke acara-acara talk show di berbagai stasiun televisi nasional untuk melakukan
publikasi kepada rakyat. Namun, Polri tidak jadi menyertakan Polpelchay (Polisi
Pelantun Chaiya Chaiya) dalam kegiatan tersebut karena yang bersangkutan sudah
terlanjur main film Abrakanizam.
Walaupun dinilai
lamban oleh banyak pengamat. Parlemen dalam hal ini DPR juga tengah melakukan
rapat-rapat intensif guna menentukan sistem pembayaran tebusan kepada teroris.
Hingga saat ini terdapat 2 opsi yang masih diperdebatkan. Opsi A, yang diusung
partai-partai Islam seperti PAN, PKB, PKS dan PPP, menegaskan uang yang ditransfer
kepada teroris harus melalui bank syari’ah. Guna mendapatkan kemaslahatan dalam
bermuamalah. Opsi B, yang diusung partai-partai nasionalis seperti PD, PDIP dan
Golkar, menyatakan pembayaran tebusan harus dilakukan tunai agar momentum acara
serah terima uang tebusan bisa diliput media dan disaksikan oleh seluruh rakyat
Indonesia sesuai azas keterbukaan.
Sedangkan Gerindra dan Hanura memilih abstain setelah Opsi C yang
ditawarkannya ditolak. Yakni, menolak tebusan dan segera melobi pihak teroris
agar prosesi pembakaran dengan BBM Premium bersubsidi diganti dengan pencelupan
ke dalam lumpur Lapindo. Hal tersebut dinilai sama dramatisnya dan lebih
efisien.
Di sela-sela kesibukan
Wakil Rakyat tersebut, Rakyat menyatakan “Saya sangat prihatin atas kejadian
tersebut. Saya menghimbau pemerintah dalam hal ini seluruh lembaga terkait
untuk bersinergi dan kerja lebih keras guna menyelesaikan permasalahan tersebut”.
Ada pula yang sangat antusias untuk ikut nonton ke lokasi pembakaran.
Di lain pihak,
hingga saat ini teroris tersebut belum terlacak berasal dari kelompok radikal mana.
Padahal TNI sudah mengerahkan daya upaya untuk melacaknya. Bahkan TNI telah
menempatkan Ki Joko Bodo dan Ki Gendeng Pamungkas dalam Tim Investigasi. Namun,
hingga kini belum ada titik terang karena TLD juga bersiap naik. Tim Resscue
juga sudah dibentuk guna menyelamatkan Presiden dan Wakil Presiden dari tangan
teroris dengan menempatkan keluarga sandra di garda terdepan. Hal itu
dimaksudkan agar pihak keluarga dapat menyaksikan detik-detik momentum
pembakaran bila misi penyelamatan gagal dilaksanakan. Dugaan sementara dari
BIN, sekelompok teroris wanita garis keras berada dibalik kejadian tersebut.
Teroris merasa geram karena pose-nya dibajak
oleh Presiden.
Sementara itu
Menkokesra gamang dalam bertindak karena dilanda kegalauan. Beliau tengah
berada pada kondisi memakan buah simalakama. Jika tuntutan teroris tidak
dilaksanakan maka Pres dan Wapres tidak akan selamat tapi jika tuntutan teroris
dilaksanakan maka Pres dan Wapres akan selamat yang artinya rakyatlah yang
tidak selamat karena dipimpin lagi oleh dua orang itu. Menpora pun tak banyak
bertindak karena masih dilanda kesedihan yang amat dalam akibat kalah 10-0 dari
Bahrain. Sementara Menkominfo menyatakan tidak dapat berbuat apa-apa karena “Aku
ga punya pulsa”. Namun tetap berjanji akan segera melaksanakan program “Presiden
Minta Pulsa” guna ikut membantu urunan tersebut.
Pada kondisi
serba tidak pasti inilah yang mendorong Menteri ESDM Jero’ Wajik berinisiatif
mencabut subsidi BBM yang berakibat terjadinya kenaikkan harga BBM di pasaran. Menkeu
mengamini langkah tersebut. Karena selama ini pemerintah menanggung subsidi BBM
yang sangat besar. Sehingga bila subsidi itu dicabut akan terkumpul sejumlah
uang dari APBN yang bisa dipake buat urunan nebus Presiden dan Wakil Presiden
dari tangan teroris. Kenaikan harga BBM tersebut juga mendorong Menkominfo mengeluarkan
kebijakan pelarangan bertukar PIN BBM karena berakibat makin membengkaknya
harga BBM tersebut.
Kenaikan tersebut berkisar 20-35%. Memang, minyak mentah di pasar internasional (New York Exchange Mercantile) yang saat ini telah menembus angka 120 dollar/barrel semakin membebani APBN. Sehingga, kenaikan harga bensin bersubsidi (premium) sebesar Rp 1000/liter dapat dikatakan akan menghemat APBN sebasar Rp 35 triliun (dari anggaran Rp 165 triliun) atau menaikkan Rp 1500/liter yang akan menghemat Rp 57 triliun, amatlah wajar. Di sisi lain, Tim Konsorsium Peneliti Perguruan Tinggi (UI-UGM-ITB) menyatakan bahwa jika terjadi kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10% maka akan meningkatkan pendapatan negara dari migas sebesar Rp 3,5 triliun. Namun, rencana kenaikan BBM tetap saja mendapat sambutan
meriah dari sejumlah pakar dan pengamat.Pengamat ekonomi Noorsy menyarankan lima hal yang bisa ditempuh pemerintah untuk tidak menaikkan BBM. Pertama adalah memastikan relokasi anggaran. Kedua, menaikkan pajak kendaraan bermotor. Ketiga, mengoptimalkan soal subsidi silang. Keempat, memperbaiki transaksi beli. Dan kelima, berhenti korupsi.
Pengamat ekonomi
Aviliani juga angkat bicara. Beliau menyatakan, pemerintah harus mewaspadai
risiko melambungnya inflasi jika harga BBM dinaikkan. Dia memperkirakan,
kenaikan harga BBM pada kisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 akan memicu tingkat
inflasi sekitar 1-2% sehingga inflasi nasional menjadi 6,5% pada tahun ini. Badan
Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan bahwa laju inflasi umum tahun
kalender 2011 mencapai 3,79 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan jika
harga BBM dinaikan pada kisaran Rp 500 hingga Rp 1.500 maka akan menimbulkan
inflasi lebih dari 5,5 persen.
Inflasi akibat
kenaikan harga BBM tidak akan menimbulkan gejolak asalkan rupiah tetap pada
kisaran RP 8.500 hingga Rp 9.000 per dolar AS. Selain itu, tingkat konsumsi
masyarakat tetap tinggi. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia ketika
rupiah menguat, maka konsumsi akan meningkat juga. Dengan tingkat konsumsi yang
tetap tinggi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan tetap terjaga di
kisaran 6 persen pada tahun ini. Sebabnya, sekitar 64 persen angka pertumbuhan
nasional ditopang dari konsumsi.
Kenaikan harga BBM
senilai Rp 2.000 per liter dari harga sekarang akan menghemat anggaran subsidi
sebesar Rp 26 triliun dengan inflasi tinggi. Dia melihat guna menekan inflasi
tersebut maka pelarangan penggunaan konsumsi BBM bersubsidi khusus untuk mobil
pribadi dinilai lebih kecil risiko inflasinya dibanding kenaikan harga BBM untuk
semua kendaraan.
Kalangan pelajar
menanggapi rencana kenaikan BBM ini dengan melakukan aksi demo di berbagai
wilayah secara serempak. Bahkan pendemo dari Aliansi Pelajar Merah Putih nekat melakukan
pembajakan kendaraan pembawa BBM.
Pakar Migas nasional, Kurtubi juga menyatakan bahwa, pengelolaan migas
di Indonesia telah menyimpang dari konstitusi. Indonesia masih menganut pola
kolonial G to B yang menyebabkan kedaulatan terkikis. Seharusnya pola yang
benar adalah B to B. Posisi pemerintah berada di atas yang mengawasi. Ini dapat
menjamin kedaulatan negara atas sumber daya alam. Selama ini untuk meneken
perjanjian, pemerintah selalu diwakili BP Migas sebagaimana diamanatkan UU
Migas. UU ini telah menyebabkan negara dirugikan ratusan triliunan karena BP
Migas tidak eligible untuk melakukan
kegiatan bisnis sehingga harus menunjuk pihak lain. Sehingga kondisi inilah
yang sebenarnya yang mengakari keamburadulan tata kelola perminyakan nasional.
Produksi migas
Indonesia juga diklaim mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Rendahnya
produksi minyak di Indonesia disebabkan eksplorasi atau pengeboran blok yang
sudah tua. Akibatnya, produksi minyak rendah tidak sebanding dengan konsumsi
masyarakat yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Produksi minyak nasional
sangat rendah pada 2011 hanya sekitar 905.000 barel per hari. Januari 2012
turun menjadi 880.000 barel per hari. Padahal, tahun 1999 masih sekitar 1,5
juta barel per hari. Sedangkan pada 2004 masih sekitar 1,3 juta barel per hari.
Secara geologis sumber daya minyak di perut bumi relatif masih sangat besar,
sekitar 50-80 miliar barel. Ditambah dengan kapasitas kilang BBM yang stagnan selama lebih dari 15 tahun
berkisar 1.050.000 barel per hari. Sedangkan kapasitas kilang yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri saat ini sekitar 1.500.000 barel per
hari. Akibatnya, Indonesia harus mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah
besar dengan harga mahal. Sehingga kenaikan harga minyak dunia berdampak pada
semakin beratnya tekanan pada APBN.
Volume produksi
minyak sangat rendah dan konsumsi dalam negeri yang terus naik telah mendorong
bangsa ini harus mengimpor minyak dalam jumlah sangat besar. Tentunya dengan
harga relatif sangat tinggi juga. Kecenderungan harga minyak yang tinggi disebabkan
faktor fundamental. Terjadi pertumbuhan konsumsi, terutama akibat faktor
geopolitik di Timur Tengah yang merupakan kawasan cadangan dan produksi minyak
terbesar di dunia. Apabila Selat Hormuz sampai ditutup, harga minyak bisa
melejit ke level 150 per barel, bahkan bisa sampai 200 dolar AS.
Salah kelola
juga pemicu penyebab rendahnya produksi minyak. Anjloknya investasi eksplorasi
pengeboran di blok baru menyebabkan langkanya penemuan cadangan atau lapangan
minyak baru. Sehingga produksi hanya mengandalkan lapangan-lapangan sudah tua. Sedangkan
menurut pantauan Global Petroleum Survey 2011, kondisi investasi sektor hulu
Migas di Indonesia salah satu yang terburuk di dunia. Bahkan untuk kawasan
ASEAN keadaan sistem investasi Migas di Indonesia paling buruk. Sementara itu,
subsidi BBM terus menggerus APBN di tengah ketidakmampuan untuk membangun
infrastruktur ekonomi yang memadai. Yang muncul sejauh ini wacana demi wacana
di seputar rencana pembatasan atau penjatahan BBM bersubsidi dengan berbagai
skenario.
Namun, Menteri
ESDM memiliki spekulasi yang lebih rasional dari sekedar permasalahan perminyakan
dan APBN. Melalui penelitian para ahli perminyakan dan survei dilapangan. Rakyat
sekarang ini tengah cerdas dan memiliki kepedulian tinggi. Sehingga, bila harga
BBM tidak dinaikkan maka akan mendorong rakyat untuk membeli BBM Premium
bersubsidi sebanyak-banyaknya guna urunan BBM Premium bersubsidi kepada teroris
untuk ngebakar dua orang itu. Terlihat sekali antusiasme mereka.
Sekedar rehat sejenak di tengah kehiruk-pikukan bangsa aja, Gan-Ganwati. Jangan ditanggapi terlalu serius. Tapi tetep kritis boleh lah, malah kudu'. Hhe...
By: Kesatria Bumi




ane pakenya android gk peduli orang pada antri BBM
BalasHapusmantabbbb...
BalasHapushttp://sastragila.blogspot.com/
..dan pada akhirnya Pemerintah akan tetap menaikkan BBM ya..tanpa mau dengar jeritan rakyatnya..
BalasHapusanw, salam kenal d dunia per-blog-an.. keep posting.. :D http://novaliantika.wordpress.com/